Peti kuburan

Toni dan Joni adalah dua orang sahabat yang sama2 berprofesi sebagai dokter. Toni seorang dokter gigi sedangkan Joni dokter tulang.

Suatu hari teman mereka yang bekerja sebagai dokter jantung meninggal. Untuk mengenang jasanya,dia dibuatkan peti berbentuk jantung. Setelah upacara pemakaman berlangsung khidmat, lalu akhirnya dikuburkan.

Satu minggu kemudian teman mereka yang berprofesi sebagai dokter mata meninggal juga. Untuk mengenang jasanya maka dia dibuatakan peti berbentuk mata. Setelah upacara pemakaman lalau akhirnya peti dikuburkan.

Toni melihat seseorang yang terus menangis di depan kuburan kedua dokter itu. Toni kemudian mendekati orang itu dan menghiburnya


"Sudah,sabarlah. Ini semua sudah merupakan takdir dari Tuhan. Nggak mungkin bisa kita tolak." Kata Toni


Orang itu menjawab "Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan padamu. Sebenarnya saya ini juga merupakan seorang dokter."


"Oh,betulkah? memang anda berprofesi sebagai dokter spesialis apa?" tanya Toni


Sambil pergi meninggalkan Toni,dari kejauhan orang itu menjawab "Spesialis kelamin."

Sepatu buaya

Joni pergi ke sebuah toko yang terkenal menjual sepatu buaya paling bagus. Joni kemudian bertanya harga sepatu itu kepada penjualnya


Joni: "Mas,sepatu buaya tuh satu pasangnya berapa?"
Penjual: "Sepatu ini satu pasang harganya 10 juta rupiah."
Joni: "ANJRITT MAHAL AMAT!!!"
Penjual: "Mau murah? tangkep aja buayanya sendiri!"
Joni: "Betul juga luh! gw tangkep aah..."


10 menit kemudian si penjual sepatu penasaran apakah si Joni beneran mau nangkep tuh buaya. Dia lalu pergi untuk mencari Joni

Saat melewati ladang buaya,si penjual terkejut banyak buaya-buaya yang mati. Benar saja,ternyata di dalam ladang buaya itu ada Joni sambil membawa senapannya.


Joni memeriksa kaki-kaki para buaya itu. Dengan kesal Joni berkata "Sialan! buaya yang ini juga nggak pake sepatu!"
Materi KOCAKGILA.com: "Peti kuburan" di atas adalah cerita lucu Fiktif, dan di salin kembali, Bila ada Nama atau Kejadian Serta Kalimat yang menyinggung, dipastikan itu hanya kebetulan Belaka
Share on :